Beragama: Kebutuhan atau Kepentingan?

oleh -
Agama
Beragama: Kebutuhan atau Kepentingan? (Ilustrasi IST/Rafiqi/Mata Jatim)
banner 468x250

Selain itu, apakah para pembaca masih ingat dengan kerusuhan sesama umat Islam di kota Sampang, Madura, dengan isu Sunni-Syiah? Ya, kerusuhan itu memang sengaja dikompor-kompori oleh elit lokal atas titah elite global guna mangalihkan pandangan masyarakat setempat agar tidak sadar bahwa kekayaan minyak gas buminya sedang dikuras oleh investor kapital.

Hendrajit dan Arief Pranoto telah membahas hal itu dalam bukunya yang bertajuk Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru. Di dalamnya juga dibahas bahwa Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat strategis dengan kekayaan alamnya yang luar biasa. Maka dari itu, dirinya mengungkapkan bahwa dunia bergantung pada Indonesia, dan Indonesia bergantung pada Jawa, sedangkan Jawa bergantung pada Jawa Timur.

banner 468x250

Dulu pada saat Jakarta dilanda krisis ekonomi, ternyata kondisi ekonomi di Jawa terlebih Jawa Timur masih tetap stabil dengan sistem ekonomi lokalnya. Jadi menurut kedua penulis di atas, jika saja Indonesia menutup kran investasi dengan negara luar atas alasan keamanan dan stabilitas ekonomi negara Indonesia, tentunya Amerika Serikat dan China akan kebingungan untuk mengelola modalnya. Sebab selain Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa, ternyata secara geoposisi Indonesia menempati titik strategis untuk dijadikan lintasan investasi Neo liberalisme. Maka dari itu, sebagai lahan basah dan besar yang dijadikan rebutan negara adidaya tentu saja akan sering terjadi benturan sesama bangsa di Indonesia guna menggoyahkan tatanan kenegaraan, sehingga nantinya dapat dikuasai.

Saat Indonesia dikuasai Amerika secara sistem politik, maka China akan menyerang, begitupun sebaliknya. Dan strategi yang dipakai adalah perang Asimetris, yaitu perang tanpa senjata yang dampaknya memakan korban lebih luas dari pada perang senjata (simetris). Strategi perang ini menggunakan penggorengan isu dengan mengadu domba satu sama lain, baik melalui isu kebijakan pemimpin negara atau juga menggunakan isu agama. Setelah negara mengalami guncangan yang luar biasa, maka di situlah negara adikuasa akan mencari celah kosong untuk menempati dan mempengaruhi sistem yang telah tertata rapi.

Terakhir, silakan sadari siapa diri kita dan jangan biarkan bangsa lain menguasai kita dengan iming-iming membela Tuhan. Teringat pada kata yang pernah dilontarkan oleh Sun Tzu “Jika kamu mengenali dirimu maka 50% kemenangan di tanganmu, jika kamu mengenali musuhmu maka 50% kemenangan di tanganmu, dan jika kamu mengenali dirimu dan musuhmu maka 100% kemenangan di tanganmu”. Dari itu, kenali diri kita sebagai bangsa Indonesia, dan kenali siapa yang akan menguasai Indonesia, serta jangan sekali-kali memberi kesempatan bangsa lain untuk mengenal kekuatan bangsa kita. Ingat Indonesia adalah negara kesatuan yang menyatukan berbagai perbedaan menjadi satu tubuh yang utuh dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

*) Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), beralamat Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Pimpinan Umum LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep periode 2020-2021. Penulis Buku Titik Hitam di Pundak Mahasiswa (YPSIM Banten, 2020).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *