Beragama: Kebutuhan atau Kepentingan?

oleh -
Agama
Beragama: Kebutuhan atau Kepentingan? (Ilustrasi IST/Rafiqi/Mata Jatim)
banner 468x250

Siapa di Balik Kericuhan Atas Nama Agama?

Perseteruan atas nama agama sudah tidak jarang kita temukan akhir-akhir ini. Bermula dari seruan berjihad yang “katanya” atas nama Allah dan demi membela agama Islam, mengkafirkan umat yang lain. Bahkan ironisnya sampai menghalalkan darah saudara sesama manusia untuk dibunuh hanya lantaran berbeda paham, lebih jelasnya mungkin berbeda kepentingan.

banner 468x250

Jika boleh saya sampaikan kericuhan yang terjadi di Indonesia tidak pernah lepas dari kepentingan politik. Dalam hal ini mungkin saya akan bahasakan agama politik. Dalam politik yang sudah dijadikan agama maka akan memakai berbagai cara agar dapat menduduki sebuah kekuasaan, tidak terkecuali memanfaatkan agama dan Tuhan itu sendiri. Tidak ada yang keliru dengan politiknya, hanya saja cara yang digunakan untuk kelancaran kepentingan dalam politik itu yang seringkali menjauhkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Maka, setelah itu akan lahir yang disebut politik praktis.

Kepentingan politik dengan memanfaatkan agama itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Tentunya terdapat aktor di belakang panggung yang menjadi sumber penggerak. Sehubungan dengan hal itu, saya juga sempat membaca esai yang ditulis oleh Dina Y Sulaeman yang bertajuk Adakah Tangan “Asing” di Balik Berbagai Kegaduhan di Indonesia (Sangkhalifah.co, 26/12/2020).

Dalam tulisan tersebut ada pendapat dari Prof. Hendropriyono, yang mengatakan “Negara adikuasa yang memegang hegemoni di dunia terus menerus (ingin berkuasa), tidak mau diganti. AS tidak mau diganti oleh China. Untuk itu AS melakukan berbagai upaya mendalangi kekacauan di Indonesia. Misalnya PRRI, yang mendrop senjata di Siak Sri Indrapura adalah CIA. Yang mengebom di Ambon, CIA… Lalu, zaman berubah, kini CIA tidak lagi campur tangan langsung tetapi pakai uang. CIA membayar orang-orang lokal untuk menggulingkan pemerintahannya sendiri… Di kedutaan AS ada diplomat yang yang sebenarnya orang CIA, tapi tentu saja mereka tidak mengaku”. Tentu mengejutkan bukan. Tapi sudahlah, hal seperti itu merupakan strategi yang biasa dilakukan  dalam pertempuran kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *