Beragama: Kebutuhan atau Kepentingan?

oleh -
Agama
Beragama: Kebutuhan atau Kepentingan? (Ilustrasi IST/Rafiqi/Mata Jatim)
banner 468x250

Dari hal itu, saya ajak para pembaca untuk sedikit mengerutkan jidat (berpikir), jika tindakan demikian disebut menyerupai suatu kaum dan menjadi haram hukumnya, lalu bagaimana dengan umat Islam yang menggunakan kalender Masehi untuk menghitung hari, haramkah itu?. Selain itu, haramkah orang yang menggunakan Smartphone yang dibuat oleh non muslim? Haramkah orang yang memakai transportasi modern seperti mobil, motor, dan lain sebagainya yang secara jelas kita ketahui bersama hal itu adalah buatan non muslim? Bukankah menggunakan barang-barang semacam itu merupakan bentuk bagian dari menyerupai umat non muslim? Tentu kebingungan bukan untuk menjawab hal itu.

Mengucapkan “Selamat Hari Natal” ataupun “Selamat Tahun Baru Masehi” tidak akan berdampak negatif terhadap akidah keagamaan umat Islam. Bahkan hal itu menjadi sebuah bukti bahwa Islam adalah agama yang ramah terhadap seluruh umat manusia.

banner 468x250

Maka dari itu, tidak ada larangan selagi hal tersebut dapat menguatkan hubungan antar manusia. Islam adalah agama yang menebar kasih sayang bagi seluruh alam (Islam Rahmatan Lil Alamin) yang di dalamnya meliputi umat agama lain, bahkan umat tidak beragama sekalipun (ateis). Kewajiban umat beragama sebagai hamba adalah mengakui keagungan Tuhan dengan menjalankan seluruh perintahnya, dan tidak ada satupun agama yang mengajarkan perpecahan antar manusia. Seluruh agama selalu menganjurkan penganutnya agar saling mengasihi satu sama lain.

Kemarin saya sempat membaca sebuah tulisan yang di dalamnya terdapat ungkapan yang diutarakan oleh Gus Dur, “Sebagai umat beragama jangan sampai mengungkapkan syukur dengan dorongan sebuah penderitaan orang lain, mengucapkan syukur karena kita masih bisa makan enak karena di luar sana masih banyak yang kesulitan mencari makan adalah tindakan yang dzolim, sebab secara tidak langsung kita telah menyakiti hati saudara kita sendiri”, begitulah kata Gus Dur. Mengingat pesan yang disampaikan Gus Dur itu saya merasa malu. Sebab, sebagai umat beragama terkadang sering egois terhadap nikmat Tuhan yang diberikan, sampai-sampai lupa bahwa syukur yang saya ucapkan dapat menyakiti hati manusia yang lain. Jangan-jangan selama ini kita beribadah hanya diselaraskan dengan keinginan dan kepentingan kita masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *