Beragama: Kebutuhan atau Kepentingan?

oleh -160 views
Agama
Beragama: Kebutuhan atau Kepentingan? (Ilustrasi IST/Rafiqi/Mata Jatim)
banner 468x250

Oleh: Moh. Busri*)

Mana Ada Agama Membatasi Persaudaraan

banner 468x90

Hampir setiap tahun Indonesia selalu dibuat ramai oleh ocehan umat beragama yang saya kira kurang paham substansi agama, jika tidak mau disebut “goblok”. Sederhananya ajaran agama diturunkan ke bumi hanya untuk menciptakan keharmonisan antar sesama manusia, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, dan saling mengasihi satu sama lain. Menghindari perseteruan sesama manusia adalah kewajiban umat beragama, terlepas dari perbedaan ras dan agamanya. Sebab, percuma menjadi umat beragama jika masih suka menyakiti hati saudaranya (sesama manusia).

Kemarin saya sempat dibuat rada-rada bingung oleh asumsi publik di media sosial terkait ucapan “Selamat Hari Natal”. Tidak sedikit saya temukan asumsi publik yang mengatakan bahwa mengucapkan “Selamat Hari Natal itu haram hukumnya bagi umat Islam. Dalil yang dibawakan “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia adalah bagian darinya”. Menjadi haram hukumnya untuk menyerupai suatu kaum jika hal itu dapat menggugah iman ketuhanannya. Namun, mengucapkan “Selamat Hari Natal” tidak akan menggoyahkan keimanan. Sebab, hal itu hanya sekadar ucapan penghargaan terhadap sesama umat manusia.

Sempat saya teringat pada sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Alwi Shihab berjudul Islam Inklusif. Dalam buku tersebut, Alwi menuliskan bahwa pada saat Nabi Muhammad SAW menjadi penguasa di Madinah, beliau berpesan “Barang siapa yang mengganggu umat agama samawi (Islam, Nasrani, dan Yahudi) maka ia telah menggangguku”. Hal itu telah membuktikan bahwa Rasulullah masih memegang teguh nilai-nilai persaudaraan antar umat beragama, tanpa melihat perbedaan agama dan golongan lainnya. Bahkan secara tegas dalam buku tersebut Alwi mengatakan bahwa umat beragama hari ini hanya sekadar memahami agama secara tekstual tanpa mencoba untuk menyentuh substansinya.

Mari kita tunggu beberapa hari lagi tahun baru Masehi akan segera tiba, dan di situlah asumsi semacam itu akan membludak tidak jelas. Sama seperti yang telah dibahas di atas dengan dalil yang sama pula.

banner 468x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *